Kamis, 10 Juli 2008

Umar Sayang Bunda

By: "Muhammad Haerul"
From: Ukasah Aditya dari KotaSantri.com

"Bunda, kenapa Allah gak kasih kita hidup enak yah?" tanya seorang
anak pada ibunya.
"Mungkin karena Allah amat sayang sama kita," jawab bundanya dengan
santun.
"Begitu ya, bunda?" Anaknya berujar.

"Iya, nak. Allah amat sayang sama kita, Allah gak mau kita terlena
sama nikmat dunia," sambil meneteskan air mata Bundanya berujar pelan.

Sore pun menjelang, bersiaplah Umar kecil untuk pergi ke masjid dekat
rumahnya. Mengenakan peci kesayangannya dan kain sarung yang agak
kumal. Langkahnya berpacu dengan suara iqamah petang itu.

Dari sudut jendela, bundanya tertegun melihat anaknya amat riang
mendengar panggilan Allah itu.

"Ayo, nak, bergegas. Jangan sampai kau telat shalat maghrib ini!"
teriak bundanya dari balik jendela.

"Iya, Bunda. Assalamu'alaikum_ " jawab Umar.

Bangga rupanya bunda Umar ini, melihat pelita kecilnya rajin ibadah.
Matanya berkaca-kaca saat teringat Ramadhan tahun yang lalu.

"Sayang, andai kau lihat anak kita saat ini, dia lucu sekali," gumam
bunda Umar dalam hati.

Melayang pikiran bunda Umar, mencoba menginggat setahun yang lalu di
kamar ini. Selepas ia tunaikan shalat maghrib, diraihnya Mushaf kecil
agak kusam lalu air matanya menetes perlahan.

"Sayang, aku rindu saat-saat itu," lirihnya pelan sebelum membaca
Ar-Rahman malam itu.

"Andai kau ada di sini sayang, melihat tingkah Umar yang lucu.
Memegang pipinya yang tembem, kau elus rambutnya yang lebat. Akhhh_
Betapa nikmat, sayang. Andai Allah berikan kesempatan kita berkumpul
kembali, menikmati lantunan suaramu saat kau jadi Imam kami, kau
bacakan surat kesukaanmu, kau do'akan kami semua agar kami sehat
selalu. Kau berikan tanganmu untuk kukecup tanda baktiku untukmu. Kau
elus kepala imut Umar, sayang. Andai kesempatan itu kembali terulang."

"Bunda, kenapa nangis?" dielusnya pipi putih Bunda oleh Umar.

"Bunda gak apa-apa kok, nak. Bunda cuma kangen sama ayah," sambil
dikecupnya kening Umar yang baru pulang dari masjid.

"Bunda, emang ayah ke mana?" tanya polos Umar.

Sambil menitikan air mata, Bunda pun membelai kepala kecil Umar.

"Ayah udah ketemu sama Allah, nak. Ia tersenyum di sana. Ayah titip
pesen kalo Umar harus jaga Bunda. Kau mau, nak?" tanya Bunda sambil
mengusap air mata.

"Mau, Bunda. Bunda kesayangan Umar. Umar pastiii jagaa bunda," sambil
tersenyum riang Umar menjawab.

Tawa kecil pun meledak di malam sunyi itu.

"Ayo, nak. Mari kita tidur. Besok pagi-pagi kita temui ayah. Umar
harus janji sama ayah bakal jaga Bunda ya?" ajak Bunda.

"Iya, Bunda. Umar janji jaga Bunda," mata Umar pun seraya tertutup.

"Masya Allah_" teriakku terbangun dari tidur. Tak terasa sudah hampir
3 jam aku tertidur amat pulas. Sesaat tersadar kalau malam ini, aku
bermimpi bertemu Umar dan suamiku.

"Allahu akbar_" tak terasa aku kembali meneteskan air mata.

Terkenang semua yang pernah terjadi malam ini, kecelakaan yang
merengut kedua belahan jiwa membuatku kembali menitikan air mata.

Masih ingat olehku, bagaimana senyum manis Umar sebelum berangkat
shalat ke masjid. Masih ingat olehku, bagaimana suamiku mencium
keningku sebelum aku pergi tidur.

"Tuhan_ Jaga belahan Jiwaku. Berilah mereka tempat yang lapang, ya
Rabb. Kumpulkan mereka sebagai umatmu yang bertakwa. Tuhan_ Kumpulkan
kami kembali di JannahMu. Aku rindu Umar_" do'aku lirih menutup
qiyamul lail malam ini.

Bunda sayang kalian_ Tunggu bunda yah! Kita pasti akan bertemu
kembali, sayang.

(Laa ilaaha illaa annta subhaanaka inni kunntu minazhahaalimin_ Laa
haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil' azhim)

Tidak ada komentar: