Kamis, 10 Juli 2008

Merkuri, Masalah bagi Perikanan

Oleh: Wahyudi Makuling, Mahasiswa Teknik Kimia, UMI
Dari: Opini Tribun Timur (www.tribun-timur.com)

Senin 6 Agustus lalu Tribun Timur memuat opini Syamsul Rahman tentang Konsumsi Ikan Menjamin Sehat dan Cerdas, yang kurang lebihnya berisi anjuran makan ikan karena kandungan gizinya.
Dalam uraiannya, ikan kaya omega3 yang mampu membersihkan racun, mengurangi risiko penyakit stroke, dan kandungan proteinnya yang sangat baik bagi manusia.

Memang perairan Indonesia adalah lumbung pangan. Potensi sumber daya perikanan budidaya 15,95 juta hektare ditambah lagi hasil tangkapan di perairan nonbudidaya adalah gambaran kuantitatifnya.
Tepatnya pada 3 Agustus lalu, kita dikejutkan dengan berita tentang diembargonya impor ikan dari Indonesia oleh Cina karena mengandung logam merkuri dan kadmium serta bahan kimia berbahaya lain dalam jumlah kecil.
Tamuan ini fakta, bukan rekayasa sebagai bentuk balas dendam Cina atas hasil penelitian Indonesia, tentang makanan olahan dari Cina yang mengandung senyawa kimia berbahaya.
Berita embargo ikan itu sangat mengejutkan karena keluar saat kita mulai mengekspos potensi perikanan. Menteri perdagangan menginstruksikan untuk mengembalikan ikan yang telah diekspor untuk diteliti lebih lanjut. Dan wacana memakan ikan dijamin sehat dan cerdas berubah menjadi makan ikan membahayakan kesehatan.
Temuan mengagetkan tentang kandungan merkuri, kadmuin, dan senyawa kimia berbahaya lain pada ikan impor dari Indonesia memojokkan kita sekaligus membuktikan pemerintah melalui departemen kelautan dan perikanan telah "kecolongan".
Ini adalah masalah lama yang ditakutkan oleh GreenPeace maupun lembaga pemerhati lingkungan lainnya. Potensi perikanan yang menjadi andalan ekspor kini harus mendulang kerugian akibat muncul statemen ikan Indonesia beracun.
Dalam 20 tahun terakhir, kasus pencemaran merkuri ditemukan di Sulawesi Utara terutama Teluk Buyat dan Teluk Manado, di Sungai Kapuas dan Kahayan Kalimantan, di Sungai Citareum dan Cisadane Jawa Barat, sungai-sungai DKI Jakarta hingga Teluk Jakarta, serta beberapa daerah di Sumatera Barat dan Jambi.
Gambaran ini telah memperjelas kondisi perairan kita yang tercemar, luput dari perhatian pemerintah khususnya departemen kelautan dan perikanan (DKP). Ketakutan masyarakat untuk mengkonsumsi ikan ialah representase betapa perikanan kita mudah dipojokkan hanya karena persoalan lama yang dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.
Demikian wacana ini telah memberi peringatan, dan kita yang tak menempatkannya sebagai suatu masalah dibuat tercengang. Ribuan ton tailing, limbah industri kimia, serta sampah plastik (nonorganik) tiap hari telah merusak ekosistem dan biota laut. Kita masih asyik mengkampanyekan makan ikan dan sama sekali tak peduli pada kondisi ekosistem laut tempat ikan itu hidup.

Dari Industri
Limbah berbahaya yang mencemari laut merupakan pembuangan tailing dari pertambangan, limbah industri peternakan, industi tekstil, industri migas, dan sebagian kecil dari tumpahan minyak.
Logam berat merkuri sebagian besar berasal dari pertambangan sedangkan kadmium yang juga besar andilnya dalam pencemaran laut bersumber dari industri pewarna tekstil.
Tapi yang paling mencolok adalah tailing. Tailing, dalam dunia pertambangan selalu menjadi masalah serius. Limbah yang menyerupai lumpur kental, pekat, asam, dan mengandung logam berat itu berbahaya bagi keselamatan makhluk hidup.
Jumlah tailing yang dibuang oleh setiap perusahaan tambang mencapai mencapai ribuan ton per hari. Di beberapa tempat penambangan seperti PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara jumlah tailing yang dibuang mencapai ratusan ribu ton setiap hari.
Tailing dari tambang mengandung salah satu atau lebih bahan berbahaya beracun seperti: Merkuri (Hg), Arsen (As), Kadmium (Cd), Timbal (pb), Sianida (Cn), dan lainnya. Logam-logam yang berada dalam tailing sebagian adalah logam berat yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Bahan pencemar yang paling "terkenal" ialah mercuri memiliki beberapa tingkat bahaya tergantung bentuk ikatan unsur dan senyawanya serta perlakuan manusia terhadap logam beracun ini.
Logam merkuri bagi lingkungan tidak terlalu berbahaya, ancamanya baru akan mencul ketika terurai atau bersenyawa dengan unsur lain. Di lingkungan yang berkadar asam tinggi, logam merkuri dapat berubah menjadi senyawa metil merkuri.
Sementara itu, merkuri anorganik dalam sedimen di dasar laut dan sungai akan diubah oleh mikroorganisme menjadi senyawa organik metil merkuri.
Senyawa metil merkuri tergolong mudah larut dalam air, sedangkan yang berbentuk metil klorida juga memiliki sifat mudah bereaksi dengan gugus SH dan OH yang terdapat dalam protein. Sifat logam beracun ini sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi seluruh aktivitas metabolisme makhluk hidup.
Di perairan metil merkuri masuk ke tubuh ikan lalu terakumulasi pada pemangsa alaminya hingga meracuni manusia. Daya serap senyawa metil merkuri tergolong mudah larut dalam air, sedangkan yang berbentuk metil klorida juga memiliki sifat mudah bereaksi dengan gugus SH dan OH yang terdapat dalam protein.

Cara Pencegahan
Pencemaran logam berat terhadap laut harus dijadikan masalah nasional karena berdampak terhadap potensi perikanan. Bukan hanya Cina yang akan menghentikan impor ikan Indonesia tapi kita juga dihantui akibat buruk dari konsumsi ikan bermerkuri.
Sektor perikanan menjadi merana karena hal ini. Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang berat, dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle).
Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia persistent, bioaccumalative and toxic (PBT) dan berangsur-angsur menggantinya dengan green chemistry yang merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan bahan pencemar.
Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga atau bahan bakar keras dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Ddapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, altermatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Menekan pencemaran limbah merkuri di pertambangan sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, paling awal dengan memilih teknik penggalian yang ramah lingkungan, yaitu penambangan tertutup untuk memperkecil keluarnya merkuri dari dalam tanah.
Pada kondisi lingkungan yang telah terlanjur terpolusi merkuri, upaya yang dilakukan adalah penyehatan kembali lingkungan. Caranya dengan memindahkan sedimen yang mengandung merkurium tinggi kemudian diisolasi. Hal ini pernah dilakukan Jepang terhadap kawasan Minamata.
Alternatif remediasi secara biologis yang disebut fitoremediasi pun ditempuh. Pada cara ini digunakan tumbuhan yang dapat menyerap metil merkuri. Dibandingkan dengan yang lain, cara ini relatif murah dan memungkinkan sumber pencemar di daur ulang. Sayangnya proses alami ini relatif lambat dalam mereduksi polutan.
Mengatasi pencemaran merkuri dengan bakteria juga dimungkinkan karena diketahui ada bakteri yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang mengandung merkuri dalam jumlah tinggi. Bakteri itu adalah Pseudomonas Flourescecens, Staphylococcus aereus, dan Bacillus sp. Hal ini menginsipirasi ahli biologi molekuler untuk memadukan fungsi gen beberapa bakteri hingga menghasilkan strain unggul untuk mengatasi pencemaran merkuri secara cepat dan efektif. (***)

Tidak ada komentar: