
From: tekim-umi@yahoogroups.com
By: Muhammad Haerul
Sejak jaman Pak Subroto Menteri Pertambangan, kemudian Ginanjar
Kartasasmita, dan akhir-akhir ini Jusuf Kalla dan Purnomo Yusgiantoro
(Men ESDM), selalu menjustifikasi setiap kenaikan harga BBM dengan
mengatakan bahwa BBM di Indonesia "lebih murah" dari pada di Malaysia,
Thailand, atau Jepang.
Memang sih lebih "murah" (murah di antara tanda petik) kalau
dibandingan nilai mutlaknya, coba dibandingkan dengan data di bawah
ini (katakan gasoline dengan nilai oktan 95%, harga 2008):
* Di Malaysia USD 0.87/liter
* Di Thailand, USD 1.27/liter
* Di Japan, USD 1.71/liter
* Di Indonesia, "hanya" USD 0.65/liter
Benar kan "paling murah"? karena hanya setara dengan USD 0.65/liter
bila dibandingkan dengan harga bensin di negara lain.
Tetapi entah bapak2 di atas (yang menjustifikasi bahwa harga BBM
paling murah) itu BENAR?, atau BENAR BODOH, atau BODOH BENAR, atau
BENAR-BENAR BODOH? atau mau mencoba MEMBODOHI orang BODOH.
Untuk setiap perbandingan harusnya dengan denominator yang sama agar
adil. Salah satu denominator yang pas untuk membandingkan adalah
dengan membandingkan juga GDP berdasar Purchasing Power Parity (PPP),
yang menggambarkan daya beli masyarakat sebagai berikut:
* Malaysia, GDP (PPP): USD 10,882
* Thailand, GDP (PPP): USD 8,677
* Japan, GDP (PPP): USD 31,267
* Indonesia, GDP (PPP): 3,843
Berdasarkan denominator itu, maka perbandingan 4 bangsa tersebut di
atas harus membayar sejumlah nilai untuk setiap pembelian 1 liter
bensin sebagai berikut:
* Orang Malaysia : 0.0000799
* Orang Thailand : 0.000146
* Orang Japan : 0.0000546
* Orang Indonesia : 0.000169
Dengan fakta di atas terbukti bahwa harga bensin yang TERMURAH adalah
di Japan sana , dan yang termahal adalah di Indonesia sana , bahkan
lebih mahal daripada di Thailand sini.
Karena yang penting itu daya beli masyarakat bukan harga bensinnya.
Kalaupun di Indonesia harga bensin Rp 50,000 per liter tidak akan
menjadi masalah (dan dijamin tidak akan didemo) kalau GDP-nya sudah
mencapai USD 200,000/kapita/ tahun.
Jadi kesimpulannya Subroto, Ginanjar, JK, Purnomo itu (silakan
lingkari jawaban yang cocok): (a) BENAR, (b) BODOH BENAR, (c) BENAR
BODOH, (d) BENAR-BENAR BODOH.
Kalau dikatakan bahwa subsidi BBM itu untuk orang kaya juga keliru,
Orang kaya di Indonesia itu hanya 11 persen, yang 89 persen itu pra
sejahtera, pra sejahtera 1, pra sejahtera 2, pra sejahtera 3, pra
sejahtera 4 (ini menurut istilah pleonasmus orde baru yang masih
dipakai saat ini), yang lebih gamblang kita kenal : miskin, miskin
sekali, sangat miskin sekali, super sangat miskin sekali.
So??? silahkan menilai, demo anti kenaikan bbm itu murni atau
disponsori oleh orang kaya (seperti yang tuduhan pak JK).
Jumat, 04 Juli 2008
Benarkah BBM di Indonesia Paling Murah?
Label:
Artikel Kimia Populer
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar